Kualat Tol Cipularang, Kesurupan (Part 7)

Kualat Tol Cipularang, Kesurupan (Part 7)

INIKECE - Aku mencium aroma tubuh Agung menguar dari segala arah. Kemudian, aku melihat Agung sedang berdiri sambil tersenyum tidak jauh dari tempatku berdiri, mungkin jaraknya hanya sepelemparan batu. 

Ia melambai-lambaikan tangannya, memintaku untuk mendekat. Perlahan aku mendekatinya, ia kemudian melangkah melewati pembatas jalan sambil terus menatapku.

"Ayo ke sini. Ikut aku,' katanya sambil turun ke semak-semak.

Aku mengikutinya turun ke semak-semak. Ia mengajakku untuk melangkah lebih jauh lagi, semakin masuk ke dalam kegelapan malam. Sejenak aku tidak bisa melihat apa pun namun beberapa saat kemudian, kulihat sebuah cahaya yang perlahan semkain mendekat ke arahku. Titik cahayanya semakin lama semakin membesar menyilaukan mata, lalu meredup.

Kulihat dengan jelas keramaian manusia berlaku-lalang melewatiku tanpa melirik wajahku. Di antara lalu-lalang orang, kudapati Agung masih melambaikan tangannya, memintaku agar tetap jalan mengikutinya.

Hingga akhirnya aku sampai di sebuah puncak., dari atas sana kulihat keramaian manusia sedang berakhititas. Ada anak-anak kecl yang sedang main sepeda, ibu-ibu menyapu halaman rumah, seorang lelaki tua sedang duduk menikmati secangkir teh. Aku tidak menyangka ada kehidupan yang begitu ramai disini.


"Kita di mana, Gung?" Tanyaku sambil menggenggam lengannya.

"Di puncak gunung Hejo," jawabnya singkat sambil tersenyum hangat.

"Nanti kau akan tinggal di sini selamanya," lanjutnya.

"Bersamamu?" tanyaku.

"Iya, kita di sini selamanya dan nggak akan ada yang ganggu kita, Meri," ia memelukku dengan hangat.

Namun, saat ia melepaskan pelukannya. Aku sangat terkejut melihatnya tanpa kepala.

"Gung? Kepala kamu ke mana?"

"Putus ketabrak bis," suara itu berasal dari bawah kakiku.

Kutemukan kepala Agung tergeletak di tanah. Ia tersenyum mengerikan.

"Kamu akan tinggal di sini selamanya, dan nggak akan pernah pulang lagi."

Seketika pundakku terasa berat seperti ada beban puluhan kilo sehingga membuatku terkapar ke tanah. Entah setelah itu apa yang terjadi, aku tidak ingat.

***

Keesokan paginya, kepalaku sangat pusing sampai tidak mampu berdiri. Sambil memicingkan mata, kulihat sekelilingku. Aku sedang berada di sebuah rumah bilik dengan cat putih yang mulai mengelupas. Keringar bercucuran dari badanku, ruangan ini sangat panas, hanya ada kipas angin butut tergantung di dinding.

"Oh udah bangun, Nak? Aku Mak Minah, semalam Mak dengar kamu jerit-jerit di dekat sini. Ternyata kamu keserupan, Nak," katanya sambil mengunyah sirih dan sesekali meludahkannya ke sela-sela lantai bambu.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment