Kualat Tol Cipularang, Terkena Pelet Setan (Part 6)

Kualat Tol Cipularang, Terkena Pelet Setan (Part 6)

INIKECE - Aku Meri. Tentu aku mendengar kabar kalau Dian meninggal secara tidak wajar. Aku tahu, pasti ada kaitannya dengan kejadian yang kami alami di tol Cipularang. aku dengar semua teman-temanku mengalami kejadian aneh termasuk aku.

Akhir-akhir ini, aku merasa menjalin hubungan dengan pacarku, Ardi. Kami bahkan sudah putus. Aku yang mengakhirinya. Rasa cinta yang dulu menggebu-gebu, sekarang hilang begitu saja. Anehnya aku malah jatuh cinta pada sosok lelaki yang selalu hadir dalam mimpu. namanya Agung.

Semakin hari, aku semakin mencintainya. Dia sosok yang tampan, kulitnya putih-bersih, dan postur tubuhnya proporsional. Setiap malam, dia datang ke dalam mimipu membawakan bunga dan cokelat.

Anehnya setiap barang yang ia berikan kepadaku dalam mimpi, barang itu selalu aku temukan di atas kasur saat aku bangun. Sungguh romantis bukan? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ah, biarlah. Aku tdak peduli.

Aku sangat ingin sekali memeluknya dan menanyakan di mana lelaki itu tinggal. Saking penasarannya, aku berniat akan menanyakan dalam mimpi. Dan, untungnya dia mau menjawab semua pertanyaanku.

Malam itu, dalam mimpi aku dibawa sebuah taman yang ramai oleh pengunjung. Di sana, anak-anak kecil yang masih mengenakan berseragam sekolah tengah bermain bola plastik. Mereka tampak sangat bahagia sekali.

Ada juga beberapa lansia tengah duduk-duduk menikmati suasana taman, melihat anak-anak muda yang tengah berolah raga. Pohon-pohon rindang membuat suasana taman begitu teduh. Juga, rerumputan hijau dan rapi menambah kesan asri suasana taman.


Aku duduk bersama Agung di bawah pohon yang paling rindang. Saat itu, ia mengenakan jaket hitam dan celana jeans pendek. Dia tersenyum kepadaku. Matanya memandangiku penuh cinta.

"Apakah aku bisa bertemu denganmu di dunia nyata?"

"Bisa," jawabnya, singkat.

"Di mana?"

"Tol Cipularang kilometer 97," jawabnya. Ia lalu tersenyum kepadaku.

"Dulu aku meninggal di sana," tambahnya.

"Aku akan menemuimu di sana, Gung. Aku janji," kupeluk tubuhnya yang terasa hangat dan menenangkan.

"Temui aku jam dua belas malam di sana, Sayang," ujarnya sambil mengelus rambutku.

Anehnya, malam berikutnya aku langsung menancap gas mobilku. Seperti yang dijelaskan Agung, aku melajutkan mobil menuju Tol Cipularang kilo meter 97. Malam itu aku keluar rumah diam-diam, tanpa memberi tahu kedua orang tuaku.

Sesampainya di kilometer 97, kuparkirkan mobil di tepi jalan. Di sana, kutemukan taburan bunga yang berserak. Di antara bunga-bunga itu, ada sebuah karangan bunga yang terpajang di pembatas jalan. Karangan bunga itu bertuliskan: Mengenang lima tahun kematian anak kami tercinta Agung.

"Mimpu benar, ia meninggal tepat di Tol Cipularang kilometer 97. Aku tidak sabar menemuinya," kataku dalam hati.

"Gung! Agung! Aku udah datang nih," kucoba memanggilnya agar ia menampakkan diri.

Selang beberapa menit, aku mencium aroma yang sangat kukenal, itu aroma tubuh Agung seperti saat dalam mimpi. Aku masih sangat mengingatnya. Tuhan, aku semakin jatuh cinta dan tidak sabar ingin bertemu dengannya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment