Part 1! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Pengasingan

Part 1! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Pengasingan

INIKECE - Malam itu, Jumadi diarak oleh warga kampung Ciliman ke sebuah hutan yang jauh dari pemukiman warga. Lengannya dirantai ke bekalang punggung. Sesekali warga mencacinya dengan sebutan 'orang gila' lantaran memakan hidup-hidup hewan ternak warga.

Akhir-akhir ini, warga memang sempat dibingungkan oleh kematian hewan ternaknya, seperti kerbau yang mati dengan bekas luka gigitan di kelaminnya, ayam yang terburai ususnya, bebek yang hanya menyisakan kulit dan bulu, kambing dengan sisa gigitan di lehernya.

Awalnya, warga menduga kalau hal itu adalah ulah kucing hutan yang sering masuk perkampungan. Ternyata itu semua ulah Jumadi. Seorang warga kebetulan memergokinya sedang mencabik-cabik perut kambing dengan giginya seperti seekor macan.

Semenjak ditinggalkan istrinya karena masalah ekonomi, Jumadi memang menjadi pribadi yang sangat tertutup. Bengkel motor miliknya sudah tidak diurus lagi, ia jarang bergaul dengan warga dan lebih sering berdiam diri di rumah.

Warga menyangka kalau Jumadi sedang depresi. Pernah beberapa kali seorang ustad mendatang rumah Jumadi untuk memberi nasihat kerohanian. Ternyata nasihat-nasihat ustad tidak mempan, Jumadi tetap menjadi orang yang pendiam hingga menjadi gila.

Telapak kaki kiri Jumadi berdarah menginjak duri. Beberapa kali ia mendapat dorongan kasar dari salah seorang warga di belakangnya. Mereka berduyun-duyun mengarak Jumadi ke hutan. Cahaya senter yang mereka bawa berayun-ayun dari kejauhan.

"Dasar gila!"

"Mati saja kau di hutan!"

"Tidak usah balik lagi ke kampung!"

"Sampah masyarakat!"

Umpatan demi umpatan dilemparkan pada Jumadi. Tubuhnya yang kurus kerempeng tersungkur ke tanah. Kakinya tidak sanggup lagi berjalan, terasa sangat perih. Seorang lelaki berbadan kekar menarik ujung baju Jumadi yang lusuh dan bau, ia memaksa Jumadi berdiri dan terus berjalan. 

Seorang lelaki lainnya malah memukul kepala Jumadi dengan kepalan tangan, ada juga yang menendang bokongnya hingga kembali tersungkur. Jumadi semakin dibawa masuk ke dalam hutan yang gelap dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Hutan yang jarang sekali dikunjungi warga karena terkenal dengan keangkerannya.

Kemudian mereka tiba di sebuah rumah tua yang besar di tengah hutan. Rumah yang sudah lama tidak berpenghuni, rumah itu dibangun oleh sebuah lembaga konservasi hutan. Pernah ditempati beberapa tahun saja oleh para peneliti dari kota, namun kemudian ditinggalkan begitu saja.

Dindingnya terlihat sudah sangat tua dan rapuh, ada tiga tiang penyangga di bagian depan. Terlihat dua jendela di bagian depan rumahnya dan dua buah kursi kayu yang sudah dijalari tanaman liar. Ruangannya gelap tidak ada liling apalagi listril. Hanya ada sisa-sisa kabel dan tiang listrik tua di belakang rumah. Dulu dibangun untuk menunjang kegiatan para peneliti di hutan.

Jumadi didorong paksa untuk masuk ke dalam rumah yang gelap gulita. Wajahnya ketakutan, ia meminta ampun pada warga namun tidak seorang pun mau mendengarkannya. Dari belakang kerumunan warga, seorang lelaki kurus yang mengenakan baju oblong warga hitam mendekat sambil membawa rantai berukuran dua meter. Ia menyeret Jumati ke dalam sebuah kamar, diikuti kerumunan warga lainnya. Ia lingkarkan ranti ke teralis jendela dan menggemboknya, kemudian ujung rantai satunya diikatkan ke pergelangan tangan Jumadi.


"Apa kita tidak terlalu sadis, Pak?" tanya salah seorang warga yang iba melihat Jumadi.

"Tidak. Ini cara yang baik agar dia tidak berkeliaran lagi di kampung dan memakan hewan ternak kita," timpal salah satu dari mereka.

"Kalian jangan khawatir. Jumadi akan tetap kita kasih makan, setiap hari kita antar makanan ke rumah ini," ujar lelaki yang sedang mengikat lengan Jumadi.

"Mampus kau Jumadi!" umpat warga lainnya.

Setelah selesai diikat, Jumadi ditinggalkan begitu saja oleh warga. Cahaya senter perlahan menjauh dan meredup, pintu kamar ditutup rapat. Jumadi duduk sendiri di dalam gelap. Ia mendengar suara pintu rumah ditutup rapat. Jumadi menangis sambil berteriak meminta tolong, ia ketakutan. Ia menarik-narik lengannya yang dirantai sampai pergelangan tangannya lecet. Semua sia-sia, Jumadi sudah dianggap gila oleh warga dan harus diasingkan.

Keesokan harinya, Sardi seorang pengembela kambing diperintah oleh warga Ciliman untuk mengantarkan makanan kepada Jumadi. Ia membuka pintu rumah yang seketika bersuara keras karena engselnya sudah tua. Dengan hati-hati, ia melengkah menuju kamar tempat Jumadi diikat. Ia menjinjing rantang yang berisi nasi dan tahu yang hanya direbus. Kedua matanya menyisiri ruangan rumah yang kotor yang dipenuhi tanaman liar.

Setelah membuka pintu kamar, ia melihat Jumadi sedang duduk sambil menundukkan kepala. Rambutnya yang sebahu menutupi wajah, ada bercak darah kering di kedua telapak kakinya. Jendela di atas kepalanya terbuka memancarkan cahaya matahari.

"Ju... ma... di. A... ku bawa makanan buat ka... kamu," kata pengembala kambing sambil terbata-bata. Ia menelan ludahnya sendiri saking takutnya.

Jumadi tidak menjawab. Ia terlihat seperti sedang tidur dalam keadaan membungkuk. Perlahan Sardi mendekat, ia jongkok di depan Jumadi. Ia kemudian membuka rantang nasi dengan terburu-buru, sesekali matanya melirik ke arah Juamdi. Nasi dan tahu rebus ia taburkan di atas plastik hitam, kemudian bergegas bangkit untuk pulang.

"Daging metah?" langkah Sardi terhenti saat mendengar suara Jumadi.

Ia menoleh ragu-ragu.

"Nggak ada daging mentah." jawab Sardi ketakutan sambil melanjutkan langkahnya.

Sardi buru-buru ke luar dari kamar. Ia bergidik ngeri melihat keadaan Jumadi. Sesaat kemudian, Jumadi mendongakkan kepalanya. Ia meringsut dengan bokongnya mendekat ke arah makanan. Lalu terbaraing di lantai, ia makan langsung dengan mulutnya seperti seekor kuning karena lengannya masih terikat rantai dibelakang punggungnya.

Di atas lantai yang penuh debu, matanya tidak mengajga melihat sebuah kawat tergeletak tepat di depannya. Ia menyingkirkan plastik nasi itu dengan kepalanya, lalu berusaha meraih sebuah kawat dengan menggunakan kaki. Kawatnya ia jepit menggunakan jari-jari kaki, berjongkok sambil menyodorkan kawat ke bekalang punggung. Jemari tangannya berhasil meraih kawat, ia berusaha mengorek lubang gembok dengan kawat.

Satu jam berlalu, dia berhasil membuka gemboknya. Kemudian, ia coba membuka gembok satu lagi yang mengikat pergelangan lengannya, kawat yang ia gunakan sempat patah, tapi masih bisa digunakan. Beberapa saat kemudian, gembok itu berhasil dibuka juga. Jumadi tersenyum mengerikan, menampakkan giginya yang penuh dengan noda hitam.

***

Keesokan paginya lagi, Sardi mengantarkan makanan. Ia mengikat dua ekor kambingnya di halaman rumah. Betapa terkejutnya, saat ia tidak menemukan Jumadi di kamar. Sesaat sebelum ia hendak berlari, sebuah rantai mencekik lehernya dari belakang.

Jumadi lalu menusuk Sardi dengan sebilah bambu runcing. Bambu itu tepat mengenai perutnya. Ia lalu menggigit leher Sardi dengan sangat buas seperti seekor singa yang sudah berbulan-bulan tidak makan. Sardi kejang-kejang, tak berselang ia tak bergerak. Ia mati. Jumadi kemudian menyeret tubuh Sardi ke halaman rumah.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment