Part 10, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Teror Jumadi

Part 10, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Teror Jumadi

INIKECE - Bri terkapar tak bernyawa dengan keadaan mata melotot. Jumati menggusur kakinya menuju belakang rak buku. Diambilnya sepiring daging kelinci yang sudah dipanggang yang tergeletak di lantai. Kemudian menyodorkan daging itu pada Safirah yang sedang menangis tanpa mengeluarkan air mata.

Selama ini, Jumadi membiarkan Safirah tetap hidup lantaran wajahnya mirip dengan istrinya dulu. Ia memberi makan Safirah dengan hewan hasil buruan di hutan kemudian memanggangnya. Walau terkadang tidak matang dan masih terdapat darah di serat-serat daging, Safirah harus tetap memakannya untuk bertahan hidup.

"Tolong lepaskan aku," desis Safirah sambil menangis.

Jumadi menatapnya. Mulutnya mengeluarkan bau tidak sedap, air liur menetes-netes ke lantai.

"Karmila...," gumam Jumadi mengingat istrinya.

"Aku bukan Karmila! Lepaskan aku!" teriak Safirah dengan sisa suara yang ia punya.

Setiap hari Jumadi mengucapkan nama Karmila di hadapan Safirah. Itu adalah nama istrinya tercinta. Yang sudah membuatnya gila. Yang sudah membuatnya menjadi predator. Oh, bahkan lebih dari itu. Kini ia adalah seorang kanibal yang menyerang siapa pun dan memakan siapa pun tanpa ampun.

Tiga tahun lalu, setelah memakan korban pertama. Ia kian menjadi-jadi, membunuh warga kampung Ciliman yang masuk ke dalam hutan. Potongan tubuh mereka ditemukan tercecer di sepanjang jalan setapak. Dagingnya dimakan mentah-mentah oleh Jumadi.

Akibat rentetan pembunuhan itu, warga tidak lagi mau masuk ke dalam hutan. Mereka tahu kalau Jumadi masih hidup dan bersembunyi di sana.

Dan sekarang, ia menyekap seorang wanita yang tidak berdosa. Wanita yang dia anggap mirip dengan istrinya. Ia mendekatkan lengannya ke pipi Safirah, hendak menyentuhnya. Tapi, Jumadi hendak menyentuhnya, ia mengambuk dan mancacinya lantas Jumadi mengurungkan niatnya itu. Setelah itu biasanya Jumadi langsung menangis. Mungkin ia teringat kejadian saat cekcok dengan istrinya dulu.

Dan benar saja, kini ia duduk di atas kursi sambil menangis tersedu-sedu di depan lampu canting. Ingatannya melesat-lesat ke masa lalu, tentang rumah tangganya, tentang istrinya, tentang tetangganya yang selalu ramah padanya. Saat itu ia sedang menangis, tiba-tiba terdengar suara samar-samar dari atas. Itu suara seorang perempuan yang memanggil-manggil nama Bri. Segera Jumadi meraih goloknya yang sudah ia asah. Lalu, baik ke permukaan dengan perlahan


Kim, Ge, dan Wisnu panik mencari Bri. ge menyuruh anggotanya untuk berpencar ke semua ruangan juga halaman rumah. Mereka tidak menemukan lubang bawah tanah karena Jumadi sudah menutupnya rapat-rapat. Ge berteriak memanggil nama Bri di halaman belakang rumah sambil berjalan tertatih-tatih karena kakinya masih terasa sakit.

Ia berjalan melewati beberapa pohon dan menerjang semak-semak. Disana, tepatnya di bawah pohon kecapi, ia melihat Bri sedang duduk sambil tertunduk. Kakinya menjulur lurus ke depan, tangannya lunglai. Ge segera menghampirinya.

"Bri, dari mana aja lu. Kita cari-cari!" Ge memaksakan kakinya untuk berlari.

Saat itu juga sebuah anak panah melesat dari atas pohon kecapi, menusuk tepat di paha kanan Ge sampai tembus. Ia berteriak meringis kesakitan. Jumadi meraih lagi anak panah dari belakang punggungnya. Membidik Ge dengan penuh konsentrasi. Settt! anak panah itu melesat lagi dan kali ini mengenai punggung atas. Dilesatkan lagi anak panas berikutnya, lalu mengenai bola mata kanan. Ge tergolek mati!
Reactions:

0 comments:

Post a Comment