Part 11, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kita Tamu Tak Diundang

Part 11, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kita Tamu Tak Diundang

INIKECE - Malam merangkak naik dan hujan turun dengan sangat deras, Bri dan Ge menghilang. Wisnu mencoba untuk tetap tenang, sekarang hanya tinggal dia satu-satunya lelaki di dalam tim.

Ia sadar kalau ada seseorang yang mengintai keberadaanya. Wisny memutuskan untuk mengubur jenazah Heru karena dia tidak yakin sanggup membawanya pulang.

Di belakang rumah, di bawah hujan deras, Wisnu susah payah menggali tanah dengan cangkul yang ia temukan di bawah pohon. Kim membantu Wisnu menggotong jenazah Heru. Setelah selesai penguburan, mereka berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

"Terus sekarang bagaimana?" tanya Kim.

"Sini," pinta Wisnu.

Ia membisikkan sesuatu di telingan Kim. Sesekali Kim mengangguk.

"Lu percaya kan sama gua?"

"Iya," jawab Kim,


Sampai larut malam, Kim tidak tidur. Lagi-lagi ia nonton dram Korea kesayangannya sambil tertawa cekikikan. Di dalam rumah itu, ia mendirikan tenda karena takut ada hewan melata yang merayap saat tidur. Sebuah senter dinyalakan di dalam tenda, membuat banyangnnya terlihat jelas dari luar tenda. Dan, dari kegelapan munculah Jumadi membawa sebuah golok mendekati tenda Kim. Ia berjalan perlahan seperti hendak menangkap seekor kelinci. Sesaat sebelum golok itu diayunkan, sebuah cangkul menghantam kepalanya dari belakang.

"Mampus lu kampret!" bentak Wisnu. Ia senang rencananya berhasil.

Sesaat kemudian Kim ke luar dari tenda, "Apakah dia mati?" tanya Kim.

Wisny menyentuh leher lelaki yang terkapar di depannya, ia masih merasakan denyut.

"Belum."

"Lalu bagaimana?"

"Bunuh?" tanya Wisnu.

"Siapa yang bunuhnya?"

"Ya, elu," pinta Wisny.

"Engga ah, gua nggak bisa bunuh orang."

"Apalagi gua, Kim." Timpal Wisny.

"Terus gimana?" tanya Kim.

"Kita ikat saja di pohon belakang rumah," saran Wisnu.

Kim mengangguk, lalu mengambil tali rafia dari dalam tasnya. Ia mengikat lengan Jumadi sementara Wisny mengikat bagian kaki. Susah payah mereka menyeret tubuh Jumadi ke belakang rumah menuju sebuah pohon pinus. Diikatkannya tubuh Jumadi pada batang pohon itu dengan ikatan sangat kuat.

"Dia nggak akan bisa lepas. Biar mati kelaparan," kata Wisnu setelah selesai mengikat Jumadi.

"Wisnu, seharusnya kita nggak masuk ke hutan ini. Kita tamu tak diundang," ujar Kim.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment