Part 13! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Apakah Itu Safirah

Part 13! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Apakah Itu Safirah

INIKECE - Mereka menuruni tangga itu satu per satu dengan hati-hati karena anak tangganya licin dan sudah berlumut. Sesampainya di ruangan bawah tanah, mereka terkagum-kagum dengan isi ruanganya yang lekap seperti ruang kerja.

Terdengar suara seorang wanita meminta tolong. Wisny mencari sumber suara itu, perlahan dibelakang sebuah meja terlihat seorang wanita bertubuh kurus menatap Wisnu dengan penuh harap sambil menangis tersedu-sedu.

"Safirah?" desis Wisnu.

Wanita itu mengangguk. Wisnu dan Kim tidak menyangka kalau wanita yang ia cari masih hidup.

Buru-buru Wisny menghampirinya, ia melihat kaki Safirah dirantai. Wisny berpikir sejenak, kemudian bangkit mencari sesuatu untuk menghancurkan rantai itu. Ia menggeledah penjuru ruangan dan untungnya menemukan sebuah kapak yang tergeletak di pojokkan.

"Kim, bantu Safirah bangun."

Dengan terpatah-patah Safirah bangkit dibantu oleh Kim. Wisny meminta agar kaki Safirah ditarik sampai rantai terulur semua. Lalu, Wisny mengayunkan kapaknya dengan perlahan, tiga kali ia menyentuhkan mata kapak itu ke rantai dengan perlahan agar saat dihantamkan bisa tepat sasaran. Dan, dengan sekali hantaman saja, rantai itu putus.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Wisnu sambil menggenggam lengan Safirah.

Tapi, saat Safirah mencoba untuk berjalan, ia seketika roboh. Kedua kakinya terlalu ringkih untuk berjalan karena sudah lama tidak digerakkan membuat Kim dan Wisnu harus memapahnya. Mereka mendongak ke atas tangga, Wisnu tidak yakin kalau Safirah mampu untuk menaiki tangga itu.

"Lu pegangin tangan Safirah, gua dari belakang nahan tubuhnya," Kim mengusulkan saran.

"Oke, pelan-pelan, ya."

Perlahan Safirah dituntun menaiki tangga, Kim terlihat sangat hati-hati menahan tubuh wanita itu. Setelah beberapa menit menaiki tangga, mereka berhasil mengeluarkan Safirah. Kim langsung meraih sebotol air dari dalam tenda dan memberikanya pada Safirah. Wanita itu minum dengan terburu-buru karena ia sangat haus.

"Jumadi?" desis Safirah dengan wajah ketakutan.

"Jumadi?" Wisnu mengerutkan kening.

"Maksud kamu penjahat itu?" Wisnu mempertajam pertanyaannya.

Safirah mengangguk dengan wajah ketakutan.

Wisnu dan Kim tersenyum, mereka menuntun Safirah ke halaman belakang rumah untuk menunjukkan kalau Jumadi sudah diikat dengan kuat.

"Kamu jangan khawatir, kami sudah mengi..."

Saat senternya diarahkan ke batang pohon pinus, Wisny terkejut bukan main melihat kenyataan kalau Jumadi lepas dari ikatannya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment