Part 15! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Ika

Part 15! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Ika

INIKECE - Keringat mengucur dari kening Kim. Ia tidak pernah merasa sesakit ini. Paku yang dicabut paksa oleh Wisnu seperti mencerabut semua urat-urat nadinya, sangat perih dan sangat sakit.

Wisny mengikat betis Kim dengan perban. Sesekali Kim meringis kesakitan. Namun, kali ini ia menangis. Wisny mengangkat tubuh Kim. dengan tertatih-tatih, Kim memaksakan kakinya untuk melangkah.

Sementara di belakang mereka, Jumadi semakin dekat. Ia membawa obor. Wisnu terus menyemangati Kim agar terus berjalan. Dari kejauhan, sudah terliaht caya obor Jumadi semakin dekat. Lelaki itu berteriak, mengancam akan membunuh mereka.

Kim menghentikan langkahnya. "Lu lari duluan! Gua mau mengalihkan perhatiannya biar lu bisa kabur," kata Kim. Ia menyeka air matanya.

"Lu ngomong apa sih? Enggak bisa, Kim. Kita harus ke luar dari hutan ini bareng-bareng."

Kim merogoh smartphone-nya. "Gua udah enggak punya siapa-siapa lago, Nu. Ibu sama bapak gua udah meninggal. Ini pegang hp gua. Password-nya 008, ada nomor Ardiansyah. itu cowok gua. Kalau lu udah keluar dari hutan ini, tolong bilang ke dia kalau gua kangen banget. Gua pengin nyusul orang tua gua di surga."

"Nggak, Kim! Ayo cepat lari!"

"Iya, Mbak. Jangan lakuin itu!" ucap Safirah, parau.

Kim malah berbalik arah. Ia berjalan tertatih mendekati sumber cahaya obor Jumadi. Wisnu berdecak kesal sambil berteriak memanggil Kim yang terus menjauh darinya.

Dengan berat hati Wisny melangkahkan kakinya. Air matanya jatuh perlahan membasahi pipi. Ia terus mempercepat langkahnya. Semakin lama ia menggendong Safirah malah tersa semakin berat saja. Sesekali Safirah menengok ke belakang, memastikan kalau Jumadi belum muncul.


Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dari arah belakang. Nyaris saja mengenai kepala Safirah. Anak panah itu menancap di atas tanah, disusul lima anak panah sekaligus dari belakang mereka. Empat diantaranya meleset, namun satunya lagi tepat menancap punggung Safirah. Darah mengucur dari punggungnya. Napasnya tersengal-sengal, ia sekarat.

Wisnu membaringkan wanita itu. Segera ia memeriksa denyut nadinya dari pergelangan tangan. Ia menangis. Safirah sudah tidak lagi bernyawa.

Sementara Wisny masih menangis, sebuah anak panah melsat kembali. Anak panah itu menancap di sebatang pohong. Buru-buru Wisny lari terbirit-birit. Ia tidak mungkin bisa melawan Jumadi tanpa senjata apa pun.

Sementara itu, Jumadi terlihat berlari dari belakangnya. Salah satu tangannya sambil menjinjing kepala Kim, sementara busur panah ia selempangkan.

Jumadi berhenti. Ia tancapkan obornya ke tanah dan meletakkan kepala Kim. Lelaki itu kemudian meraih busur panahnya, membidik Wisnu dari kejauhan. Dengan satu anak panah saja, Wisnu tumbang.

Anak panah itu mengenai paha kiri Wisnu. Ia kemudian merangkak sekuat tenaga utnuk terus melarikan diri. Jumadi tertawa lepas saat melihat mangsanya tumbang. Ia kembali meraih obornya lalu berlari mendekati Wisnu.

Setelah berhasil mendekati buruannya, Jumadi mengeluarkan sebilah parang yang ia ikat di pinggangnya. Wajah Wisnu berkeringat dingin. Ia ketakutan. Jumadi langsung menyebetkan parang itu ke data Wisnu. Darah mengucur hingga tubuhnya mulai melemah. Wajahnya dan bibirnya terlihat sangat pucat.

Sebuah smartphone jatuh dari dalam tas Wisnu. Smartphone itu menangkap sinyal. Pesan singkat mulai masuk bertubi-tubi. Hampir semua pesan itu dari Ika : Wanita yang tengah dekat dengannya. Tepat jam dua belas lewat satu menit, sebuah pesan baru masuk.

"Hai, Wisnu! Selamat Tahun Baru. Aku tahu kayaknya di hutan enggak ada sinyal. Tapi, aku tetap mau kirim pesan ini buat kamu. Cepat pulang ya! Aku mau ajak kamu makan Mie Ramen.

Ika'

Smartphone itu tergeletak begitu saja di atas semak-semak yang basah oleh darah. Jumadi menyeret tubuh Wisnu yang sudah tak bernyawa. Ia pulang sambil menyanyikan sebuah lagu favoritnya.

"Naik-baik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara," suaranya parau dan mengerikan.

SELESAI.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment