Part 2! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Bersepeda

Part 2! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Bersepeda

INIKECE - Tiga Tahun Kemudian, Safirah mengayuh sepeda gunungnya. Ia berusaha mengejar Daus yang sudah melaju lebih jauh darinya. Berkali-kali dan depan sepeda Safrah menghantam akar pohon sebesar lengan orang dewasa. Itu membuat sepeda yang ia kendarai terpental-pental.

Untungnya, ia masih bisa mengendalikannya. Ia mencoba untuk mengatur napas, membetulkan poisis helm dengan tangan kiri. Sepedanya terseok-seok melewati jalan berlumpur. Ia terus mengikuti jalan setapak yang memang sering digunakan untuk bersepeda.

"Daus, tungguin gua dong!"

"Hahahaha...," Daus malah mempercepat laju sepedanya.

"Ih, nyebelin! Jangan jauh-jauh dari perkemahan! Woy!" teriak Safirah.

Ia kembali mempercepat laju sepedanya. Kedua matanya sesekali melirik ke arah kanan. Banyak pepohonan besar dengan daun-daunnya yang basah dari sisa guyuran hujan semalam. Tiga ekor monyet bergelantungan di dahan pohon. Monyet-monyet itu memerhatikan Safirah yang sedang mengayuh sepeda.

Beberapa saat kemudian, ia menghentikan lajut sepedanya. Safira melihat sepeda Daus tergeletak begitu saja di tanah. Tapi, tak ada Daus di sana.

"Daus?" Ia turun dari sepedanya. Safira lalu berjalan perlahan mencari Daus.

Ada jejak kaki di atas rumput yang juga masih basah. Jejak-jejak itu menuju ke arah semak-semak yang lenbat.

""Lu ngerjain gua ya?" wajah Safirah terlihat siaga. Ia terus menyibakkan semak-semak yang lebat, berharap menemukan Daus dibaliknya.

"Daus? Jangan bercanda lah! Males gua."

Sesaat kemudian, Safirah menemukan Daus. Ia sedang duduk di atas rerumputan sambil membungkuk.

"Daus?"

Perlahan kepala Daus terangkat. Namun, seperti ada yang berbeda dari perangainya. Kedua matanya itu memandangi Safirah dengan penuh makna.

"Lari, Sayang!" kata Daus, lirih. Tubuhnya lalu terguling ke tanah.

Sebilah linggis menancap di punggung Daus. Pemandangan itu membuat Safirah berteriak begitu keras. Ia lari terbirit-birit. Segera ia meraih sepedanya, menunggangi dan mengayuh pedalnya sekuat tenaga.

Safirah menangis terisak-isak. Sedangkan di belakang, Jumadi terlihat gesit berlari. Ia mengejar Safirah sambil tertawa. Sebilah linggis ditangan krinya, sementara tangan kanannya menggenggam batu.

Batu itu ia lempar sekuat tenaga. 'Bug', batu itu tepat mengenai punggung Safirah. Seketika wanita itu terguling ke tanah. Sepeda yang ia tunggangi masuk ke semak-semak.


"Tolong!" teriak Safirah. Ia mencoba untuk bangkit.

JUmadi berlari mendekatinya. Ia masih tetap tertawa. Ia kemudian menghantam leher Safirah dengan badan linggis. Satu sabetan, tapi itu berhasil membuat Safirah tak sadarkan diri. Jumadi lalu menyeretnya.

Lelaki gila itu semakin buas. Air liur terlihat keluar dan menetes dari sudut mulutnya. Rambutnya panjang sebahu, tapi sudah botak di bagian tengah. Ia mengenakan singlet hitam yang dirangkap kemeja tanpa dikancingkan. Celana panjang hitamnya penuh lumpur.

Jumadi tidak menggunakan alas kaki. Telapak kakinya tebal karena sudah terbiasa tanpa alas kaki ke mana-mana. Baju bagian punggungnya basah oleh keringat. Bahkan, keringat yang keluar dari badannya berbau amis.

Ia terus melangkahkan kakinya. Sembari menyeret tubuh Safirah, ia sambil bernyanyi.

"Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara."

Suara Jumadi parau meski nadanya pas. Bahkan terkesan menakutkan. Sesaat, lirik lagu tersebut berganti dengan siul.

Perlahan mata Safirah mulai terbuka. Tapi, badanya lemas. Bahkan, ia tidak bisa menggerakkannya. Samar-samar ia mendengar siul nyanyian lelaki yang menyeretnya.

Jumadi berjalan ke tempat semula Daus ditusuk. Safirah lalu digeletakkan tepat di depan mayat Daus. Samar-samar, Safirah melihat lelaki itu menggigit leher kekasihnya. Ia tampak mengunyah sesuatu. Astaga, itu daging dari leher Daus.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment