Part 3! Tahun Baru Di Hutam Terlarang, Jadi Detektif

Part 3! Tahun Baru Di Hutam Terlarang, Jadi Detektif

INIKECE - Wisny melemparkan smartphone ke atas kasur. Ia kecewa menerima pesan kalau interview kerjanya ditolak. Ia kemudian duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengembuskan napas berat.

Sudah satu bulan semenjak dia lulus dari kampusnya dan belum dapat kerjaan. Semua lamarannya ditolak oleh perusahaan. Targetnya sebelum tahun baru, ia harus segera dapat pekerjaan.

Ia meraih kembali smartphone-nya. Membuka aplikasi pencari kerja, scroll terus ke bawah. Di sana tertera sebuah lowongan kerja menjadi tim investigator atau dalam bahasa sederhananya menjadi seorang detektif. Wajahnya sumringah, menjadi seorang detektif adalah cita-citanya sejak kecil.

Ia yakin bisa menjalankan profesi itu dengan baik karena dia sering menonton kartun detektif conan. Selain itu, dia juga suka menonton film-film detektif seperti Shutter Island, Searching, Memento, dan Sherlock Holmes. Waktu SMA pun ia pernah memecahkan sebuah kasus hilangnya spidol guru. Jadi, dia yakin bisa diterima untuk menjadi detektif.

Segera dia keluarkan laptop dari dalam lemarinya. Menyiapkan CV dan surat lamaran, lalu mengirimkannya ke email tersebut. Wisnu tersenyum sambil berdoa dalam hati semoga ia bisa diterima. Bukan kenapa-kenapa, ia malu pada kedua orang tuanya kalau terus-terusan menganggur. Walau sebenarnya, mereka tidak pernah menuntut agar Wisnu cepat dapat kerja.

"Wisnu, makan malamnya udah siap nih. Sini turun." terdengar suara ibuny memanggil.

"Iya, Mah."

Diruang makan, Wisnu lumayan terkejut melihat seorang wanita yang asing baginya duduk di meja makan bersebelahan dengan ayahnya Wisny.

"Oh, kenalin. Ini anak temannya mamah, Namanya Ika."

"Iya, Wisnu," ia menjabat tangan ika sambil tersenyum.

"Mamah bawa Ika ke sini biar kalian saling mengenal siapa tahu cocok. Kamu kan udah jomblo lama banget," ibunya Wisnu menyodorkan nasi pada Ika dan menyendokkan sepotong rendang sapi untuknya.


Wisnu terlihat grogi. Sudah empat kali mamahnya membawa perempuan ke rumah. Tapi, tidak satu pun yang menarik di mata Wisnu. Dan sekarang wanita ini, ia terlihat sederhana. Penampilannya tidak neko-neko, rambutnya sebahu, mengenakan baju kotak-kotak biru lengan panjang. Sesekali wanita itu tersenyum pada Wisny.

"Oya Mah, Pah. Wisnu barusan ngelamar kerja lagi."

"Oya?" timpal ayahnya yang sedang menggigit opor sapi.

"Jadi apa, Nak?" tanya ibunya.

"Detektif, Mah."

Seketiak gelak tawa meledak di meja makan. Sampai-sampai bapaknya tersendak makanan. Untung saja ia langsung minum air.

"Wah keren itu," ujar Ika dengan sumringah. "Aku suka nonton film-film detektif dan ngabayangi kalau bisa jadi detektif suatu saat," tambahnya.

"Emang ada lowongan kerja kayak gitu?" tanya bapaknya, ia mengelap sisa makanan dengan tisu di sekitar bibirnya.

"Adalah, Pah. Aku nemu di internet."

"Yowis, semoga keterima ya, Nak," ibunya menyodorkan segelas air putih pada Wisny.

"Amin. Oya Ika, kamu suka detektif juga, ya?"

Mereka menikmati makan malam. Suara sendok beradu dengan piring memenuhi ruangan makan. Wisny merasa nyambung mengobrol dengan wanita yang baru ia kenal.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment