Part 7! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Berkemah

Part 7! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Berkemah

INIKECE - Mereka mendatangi rumah warga untuk mencari orang yang mau memandu mereka masuk ke hutan. Tapi, tidak ada satu pun warga yang bersedia. Warga bergidik ngeri saat Heru menyebut nama Hutan Ciliman lantaran itu adalah hutan terlarang.

Akhirnya mereka hanya meminta petunjuk jalan untuk masuk ke dalam hutan itu. Salah seorang warga menunjukkan jalan setapak yang berada di ujung barat kampung Ciliman, jalan itulah satu-satunya akses untuk bisa masuk ke hutan Ciliman. Tanahnya becek, rerumputan menutupi jalan itu mungkin karena sudah lama tidak ada yang melintas.

Kim dan Wisnu kesulitan menarik kopernya, sesekali mereka harus mengangkat rodanya karena tersangkut akar pohon. Sementara Heru, Ge, dan Bri memimpin di barisan depan. Mereka tidak berhenti mengawasi sekeliling mencoba menemukan petunjuk.

Menurut laporan yang mereka terima. Safirah dan Daus hilang sebulan yang lalu di hutan ini saat berkemah. Polisi sebenarnya sudah menyisir wilayah ini tapi mereka hanya menemukan sepeda dan tanda saja. Sementara Safirah dan Daus belum diketahui keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah mati.

Mereka berlima terus masuk ke dalam hutan. Hari semakin gelap, cuaca terlihat mendung. Sekeliling mereka terlihat pohon-pohon besar dan beberapa monyet menjuntai di dahan-dahannya, menyalak-nyalak seperti sedang menyambut kedatangan tamu tak diundang.


"Lu kenapa mau jadi detektif, Kim?" tanya Wisnu yang berjalan dibelakang Kim.

"Seru aja. Bisa mengungkap kasus-kasus misterius itu hebat," jawab Kim sambil terus berjalan, ia mengemut permen yang ada gagangnya.

"Lu yakin kuat bertahan di hutan kayak gini?" tanya Wisny.

"Kuatlah, gua kan cewek strong."

"Arghhhh!" tiba-tiba Ge menjerit.

Kaki kirnya terkena sebuah perangkap besi. Ia tidak sengaja menginjak perangkap itu, darah mengucur dari pergelangan kakinya. Ia meringis kesakitan sambil terus berteriak. Besinya berkata sehingga dapat membuat kaki Ge terkena infeksi.

Heru dan Bri berusaha membuka gigitan perangkap di kaki Ge, sementara Wisnu merogoh sesuatu dari tas ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah lotion dan menungkannya pada perangkap itu agar mudah terbuka. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Bri dan Heru dapat melepaskan gigitan perangkap.

Kaki Ge berdarah sampai kulitnya terkelupas menampakkan dagingnya. Buru-buru Kim menggelangkan perban di pergelangan kaki Ge.

"Gua nggak sanggup jalan," kata Ge saat ia mencoba untuk bangkit.

Wisnu melirik ke arah kanan. DI sana ia melihat sebuah lahan yang cukup datar.

"Apa sebaiknya kita berkemah di sana, lagi pula hari sudah semakin gelap Pak Heru," ujar Wisnu.

"Lu bener. Yasudah kita berkemah dulu malam ini."

Mereka mendirikan tiga tenda dome. Ge tidur bersama Heru, Bri dengan Wisny, sementara Kim tidur sendiri. Tapi tendanya Kim diimpit dua tenda sehingga tetap bisa terjaga oleh anggota lainnya. Di dalam tenda, Ge tidak berhenti meringis kesakitan. Luka di kakinya terus mengeluarkan darah, betisnya juga mulai bengkak.

"Lu nggak usah khawatir. Ini obat gua kasih obat," Heru menyunyikkan cairan di pergelangan tangan Ge, itu obat tidur.

Malam semakin larut. Mereka tertidur dengan pulas kecuali Kim. Wanita itu malah nonton drama Korea di smartphone-nya sambil hahahihi tertawa. Sehari sebelum berangkat ke hutan, ia mengunduh dua puluh serial drama Korea yang belum sempat ia tonton.

Ia sekali menangis terharu melihat adegan dramatis. Saat sedang asik menonton drama Korea, tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan lelaki di jalan setapak. Buru-buru ia mematikan layar smartphone-nya. Lalu meringsut perlahan, mengintip dari dalam tenda.

Ia melihat seorang lelaki sedang memegang perangkap yang melukai Ge, lelaki itu membawa sebuah golok di tangan kanannya sementara tangan krinya menggenggam senter. Kim terheran-heran, siapa lelaki itu? Tiba-tiba lekai itu menoleh ke arah Kim dengan tatapan mengerikan.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment