Part 8! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Sebuah Rumah Tua

Part 8! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Sebuah Rumah Tua

INIKECE - Kim buru-buru menutup jendela tendanya. Bayangan lelaki itu mendekat, cahaya senter yang ia bawa mengarah ke tendanya Kim. Jantung Kim mulai berdetak kencang, tangannya merogoh sebuah semprotan air mata dari dalam tas untuk jaga-jaga kalau lelaki itu menyerangnya.

Ia berdiri di depan tenda Kim, siluet badannya terlihat jelas karena malam itu cahaya bulan menyinari hutan. Kim melihat bayangan golok dari dalam tendanya, ia segera mengambil hytera radio untuk membangunkan teman-temannya. Lelaki itu mengacungkan golok seperti hendak menghantamkannya ke tenda, tapi sesaat sebelum golok itu diayunkan, seekor anjing menggonggong dari kejauhan. Membuat lelaki itu langsung bergegas lari.

Kim mengembuskan napas lega. Ia hampir saja berteriak dan meminta tolong, syukurlah lelaki misterius itu sudah pergi. Ia bangun dan meringsut ke jendela tenda, membuka ritsleting jendela, melirik kiri kanan. Lelaki itu benar-benar sudah pergi. Malam semkain lerut, ia pun memaksakan diri untuk tidur.

Keesokan paginya, Ge sudah bisa berjalan lagi walau tertatih-tatih. Luka di kakinya mengering. Mereka berkemas dan melanjutkan perjalanan kembali, masuk ke dalam hutan. Kali ini Heru menyarankan agar lebih hati-hati karena bisa jadi masih ada ranjau lainnya di hutan.


"Wisnu. Lu tahu nggak semalam ada cowok bawa golok nyamperin tenda gua," ujar Kim yang berjalan gontai di belakang Wisnu.

Sesekali Kim membetulkan posisi kacamatanya. Rambunya yang sebahu dan dicat pirang menyerupai artis Korea ia ikat ke belakang.

"Serius, lu?" Wisnu berhenti dan menoleh pada Kim.

"Iya, dia hampir aja ngebacok tenda gua."

"Yaudah kita laporin ke Pak Heru," ujar Wisnu.

Saat itu juga, Kim menceritakan kejadian semalam. Wisnu sibuk mencatat kejadian itu, sementara Heru sibuk memeriksa jalan setapak.

"Guys, jangan bergerak. Ada jejak kaki seseorang," Heru mengeluarkan kaca pembesar dari saku celanannya.

Setelah itu, ia juga mengeluarkan alat pengukur untuk memeriksa panjang dan lebar jejak kaki itu.

"Ini mungkin saja jejak kaki lelaki semalam. Umurnya kisaran tiga puluh sampai empat puluh tahun. Jejak kakinya masih basah, kita bisa ikuti perlahan dan tetap siaga," Heru mengatur barisan.

Langkah kaki yang mereka ikuti keluar dari jalan setapak dan masuk ke semak-semak. Di atas rumput yang basah masih ada bercak lumpur bekas injakan kaki seseorang, mereka masuk ke dalam semak-semak itu. Melewati pepohonan yang akarnya besar, daun-daun kering berserak dimana-mana. Suara monyet menyalak panik melihat kedatangan orang asing. Semakin mereka masuk ke dalam hutan, cahaya matahari semakin meredup karena tidak bisa menembus daun-daun pohon besar yang lebat.

"Lihat ada kelinci," Kim menunjuk ke arah pohon jati.

Di sana ada seekor kelinci yang tengah mengunyah dedaunan.

"Hus, jangan berisik Kim," desis Bri dari depan.

"Guys ada rumah tuh," Heru menunjuk sebuah rumah yang terlihat sangat tua.

"Wah, kita bisa istirahat di sana, Pak Heru" timpal Kim.

Kemudian mereka berjalan dengan penuh hati-hati menuju rumah tua, dan secara tidak sengaja kaki Heru menabrak sebuah tali yang membentang di hadapannya. Ia terkejut lalu menoleh ke arah rekan timnya.

Sebuah balok kayu besar meluncur dari arah kanannya, menghantam tubuh Heru hingga terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tubuhnya kemudian terbanting ke batang pohon jati. Darah mengucur dari mulutnya, bola matanya memerah sambil melotot ke atas, tubuhnya bergetar. Saat berayun, balok kayu itu bukan hanya mengenai tubuhnya, tapi juga kepalanya. Ia sekarat.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment