Suratan Takdir, Cerpen!

Suratan Takdir, Cerpen!

INIKECE - Alkisah ada seorang wanita dan satunya lagi seorang lelaki. Keduanya saling mencintai amat dalam. Tatapan antara keduanya adalah tatapan paling indah dan tulus yang tak bisa ditandingi.

Orang bilang ketika dua insan sedang jatuh hati, dunia akan serasa milik mereka, semua nasihat dan tutur kata orang lain pun tak digubris. Dengan sangat menyesal, aku adalah orang yang harus "mengambil" ketulusan rasa cinta kedua insan ini.

Apalah daya, memang hidup tidak seindah bayangan dua orang yang sudah terlanjur suka. Hidup seperti serangkaian ketidaksengajaan yang terkadang membuahkan tawa, namun terkadang juga menjatuhkan tangis.

Hari itu. Si wanita yang harus aku "ambil" keluar dari apartemennya sehabis mengucapkan I Love You pada si lelaki di telepon genggamnya. Si wanita tersenyum-senyum sendiri seperti normalnya orang yang dilanda jatuh cinta.

Si wanita kemudian mulai berjalan menyusuri lorong apartemen. Tiba-tiba ada seorang wanita tua dan wanita lainnya yang lebih muda (sepertinya adalah anak perempuan wanita tua), keluar dari kamar apartemennya. Si wanita tua terduduk di atas kursi roda dengan raut wajah lelah dan penat.

Sumpah serapah dan makian nyelekit keluar dari si anak perempuan membuat si wanita tua terlihat semakin tidak berdaya. Si anak perempuan terus mengoceh penuh kedengkian pada wanita tua di kursi roda seraya mendorong kursi rodanya dengan kasar, yang akhirnya membuat si wanita yang kebetulan juga lewat di lorong tersebut tertabrak.

Setelah mengucapkan permintaan maaf yang cuek, wanita muda dan wanita di kursi roda pun menyeleweng pergi begitu saja. Namun apa boleh buat, hati si wanita sudah terlanjur dipenuhi bunga dan kupu yang bermekaran.

Si wanita pun tetap berjalan dengan wajah yang dipenuhi cinta. Si wanita memencet tombol lift dan memasuki lift. Ketika lift sudah mau ditutup rupanya ada seorang laki-laki paruh baya dengan jas yang sedikit kebesaran berteriak dari kejauhan menyuruh si wanita menahan pintu lift. Si wanita pun melakukannya. Si pria paruh baya pun masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Maaf, tiba-tiba bos menyuruhkan datang satu jam lebih awal. Terima kasih sudah menahan pintu liftnya."

"Tidak apa-apa pak, saya tidak keberatan."

Begitu saja percakapan antara keduanya selesai di dalam lift dari lantai sepuluh itu karena rupanya ada yang memencet tombol lift lantai delapan.

Lift terbuka dan masuklah keluarga kecil (Ayah, Ibu, dan anaknya yang membawa tas ransel bermotif Toy Story) yang sepertinya hendak pergi liburan. Ibunya membawa tas jinjing besar untuk baju sekeluarga dan ayahnya membawa peralatan foto canggih.

Akhirnya lift pun terbuka pada lantai satu. Si wanita, pria paruh baya, dan keluarga yang hendak pergi liburan pun pergi berhamburan dari lift. Menyisakan jejek interaksi tipis yang pernah terjadi di antara orang-orang tersebut.

Lagi-lagi, dengan wajahnya yang sedang mabuk cinta si wanita mengeluarkan telepon genggamnya dan menelepon si lelaki. Suara si lelaki yang sepertinya sehabis menggombal dari telepon membuat si wanita tambah melayang. Si wanita pun kemudian menutup telepon dan keluar dari gedung apartemennya.

Mencari-cari, akhirnya si wanita mendapati si lelaki di seberang jalan. Keduanya hanya dipisahkan jalan raya yang ramai dan penuh sesak. Dilihatnya si lelaki membawa satu buket bunga tulip-bunga kesukaannya, di tangannya.

Si lelaki melambai sepenuh tenaga agar si wanita melihatnya. Ketika sepasang mata dari keduanya akhirnya bertemu, mereka saling melambaikan tangan sambil tersenyum-senyum seperti orang yang sudah hilang kewarasannya.

Waktu lampu merah untuk mobil dan lampu hijau untuk orang berjalan kaki menyala. Si wanita dan si lelaki pun langsung berjalan di atas aspal bergaris putih, tak sabar untuk bertemu dan memeluk satu sama lain. Sayangnya pak sopir pengangkut bahan bangunan yang sedang mengendarai truk besar pada jalan raya itu sedang menerima telepon dari istrinya yang katanya lagi keguguran.

Maka tak pikir panjang kaki pak sopir terus saja menginjak gas tanpa memedulikan tuas rem di sebelahnya. Kebetulan si wanita sedang berjalan tepat di depan truk pengangkut bahan bangunan tersebut.

Tak lama setelah itu, aku pun harus menjalankan tugasku. "Mengambil" wanita itu bukanlah hal yang kuinginkan, namun apa daya ini sudah tugasku. Mengapa kisah cinta indah harus terpaksa diakhiri dengan sesuatu yang keji seperti ini? Aku melihat si lelaki tercengang tak jauh dari tempat si wanita yang sudah tergeletak bersimbah darah di jalan raya. Bunga tulip segar sudah terjatuh terinjak-injak oleh masa yang melewati jalan raya itu.

Seakan kisah cinta yang indah tidak bagus bila dibiarkan memiliki akhir yang bahagia. Aneh bukan, bagaimana di antara berjuta kemungkinan dan berjuta orang yang ada di jalan raya itu, si wanita lah yang harus mengeluarkan isi kepala dan mematahkan punggung.

Apa mungkin bisa si wanita tidak dapat memasuki lift lebih cepat. Bila si wanita memasuki lift lebih cepat, si wanita tidak bertemu dengan pria paruh baya dengan jas kebesaran.

Bila si wanita tidak bertemu dengan pria paruh baya dengan jas kebesaran yang menyuruhnya menahan lift, ia tidak akan bertemu dengan keluarga yang hendak berlibur. Bila si wanita tidak bertemu dengan keluarga yang hendak berlibur, lift tidak perlu berhenti di lantai delapan. 

Bila lift tidak berhenti di lantai delapan, si wanita akan keluar dari gedung apartemen lebih cepat. Bila si wanita keluar dari gedung apartemen lebih cepat, maka ia tidak akan berdiri di depan truk yang dikendarai pak sopir yang baru saja menerima telepon bahwa istrinya keguguran.

Bila si wanita tidak berdiri di depan truk, si wanita mungkin saja masih membuka mata dan menerima pelukan serta bunga tulip favorit dari lelaki kesayangnnya. Bila si wanita akhirnya dapat memiliki akhir yang bahagia, maka aku tidak perlu di sini untuk "mengambil" dia.

Well, mungkin saja Yang di Atas tidak merestui. Apa pun itu, yang jelas takdir mengatakan berbeda. Apa boleh buat, aku telah di sini menyaksikan berbagai kebetulan yang tidak disengaja, membuahkan hasil yang miris dari sebuah kisah cinta yang romantis yang berakhir sangat naas.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment