Bukalah Matamu, Sebuah Cerita Pendek

Bukalah Matamu, Sebuah Cerita Pendek

INIKECE - Sudah hampir satu jam bayi iyu diletakkan di dadanya. Bukalah matamu, ia berbisik letih. Suaranya, yang mula-mula bertenaga, kini hampir tak terdengar lagi setelah nyaris seratus kali ia berkata dengan kalimat yang sama.

Dokter muda yang menemaninya selama proses 'penjemputan roh' begitu ia berpikir tentang apa yang sedang mereka lakukan mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dan menyudahi semuanya.

Ia mengeratkan tangannya, melindungi bayi itu dalam pelukan. Bukalah matamu, bisiknya parau bercamur rasa takut yang mulai bercambah dalam hatinya. Ia tidak mau kehilangan bayi itu. Ia tak mau melepaskan.

Dokter muda membujuknya seperti merayu anak-anak yang tak ingin menyimpan mainannya, padahal sudah waktunya untuk istirahat. Ia lebih mengeratkan pelukan kepada bayi yang makin tampak putih itu.

Ia mengecupi rambut si bayi yang tebal dan hitam. Bukalah matamu, bisiknya, tanpa suara. Si bayi tidak pernah membuka matanya. Ia tampak begitu pulas dan akan tidur selamanya.

Aku menjadi bidadari, Ibu.

Di sini, orang tak mengenal angka untuk menunjukkan sebuah usia. Jadi, aku tidak tahu umurku. Juga tidak pernah memikirkannya. Tiap hari aku bermain saja. Bila aku menginginkan sebuah padang yang luas, aku tinggla mengatakannya. Padang itu seketika terbentang di hadapanku. Aku menyukai padang rumput tanpa batas.

Angin yang kuat. Langit yang terbentang. Aku berjalan di sana. AKu mematahkan ranting kecil untuk kupukul-pukulkan ke udara atau mengejutkan serangga yang sedang menyesap madu bunga liar.

Begitu juga jika aku menghendaki laut, aku hanya perlu berbisik, serta merta laut mengempaskan ombaknya ke karang-karang. Bunyi gemuruhnya membuat dadaku berdenyar. Aku segera menghambur ke tengah untuk menemui sekawanan ikan. Mereka semua ramah, meski kami tidak pernah berkenalan secara formal.

Andai aku membayangkan sebuah taman tropis penuh bunga, maka seketika aku berada di dalamnya. Campuran aroma bunga-bunga itu pun mengingatkan aku kepada kamar ibu dengan jendela yang terbuka dan bau segar tanaman masuk ke dalamnya. Di sinilah aku akan menantimu, Ibu.

Sekarang bangunlah, aku akan keluar dari mimpimu.

Ia meraba dadanya. Kosong. Bayi iyu sudah tak ada. Ia juga sudah tidak di ruang rumah sakit dengan bau obat dan peralatan medis yang bergelantungan. Ia kini berada di rumahnya sendiri. Di sebuah kamar warna krem. Ia lupa kapan mengganti warna kamarnya. Pasti sudah lama sekali. Ia lupa apakah ini hari Rabu atau Minggu.

"Bukalah matamu," bisik lelaki yang telah menemani hari-hari kelabunya. Maka ia membuka matanya lebih lebar, tapi tetap saja seolah tak menemukan apa-apa. Semua begitu kosong. Begitu sunyi. Begitu tidak terjangkau.

Ia menolehkan pandangannya kepada lelaki yang tidak juga beranjak dari sisi tempat tidur. Beberapa helai rambut lelaki itu putih berkilau. Pasti dia banyak digelayuti masalah, pikirnya. Ia memperhatikan lagi jendela kamarnya, kaca-kacanya sudah berdebu. Ia lupa kapan terakhir membersihkannya.

"Kau sudah tak melakukannya selama bertahun-tahun," kata lelaki yang kini meremas lengan tangan kanannya lembut. Ia sungguh tak memedulikan apa-apa selain bayinya. Pipi putih dan rambut hitam lebat dalam dekapannya. Kapan bayi itu diambil darinya? Ia merasa semua seolah baru saja terjadi tiap ia bangun tidur.

"Sudahlah." Lelaki itu kembali meremas tangannya. Mata lelaki itu berair. Namun, dia buru-buru menghapusnya. "Sekarang berdirilah. Buka jendela lebar-lebar." Lelaki itu terus berbisik. Ia mengangguk.

Dengan hati-hati ia bangkit, berdiri, dan mendekat ke jendela. Gorden jendela itu sudah dibuka. Pasti lelaki itu yang melakukannya. Dunia tampak terang di luar sana. Daun-daun hijau. Bunga-bunga bermunculan di antara daun-daun itu.

Kapan terakhir kali ia berkebun? Ia tidak ingat sama sekali. Hidupnya sudah lama berhenti.

"Ayo, buka jendelanya," kata lelaki itu. Ia agak ragu mulanya. Namun, ia pun mengangguk. Dan, tiap ia berhasil membuka jendela itu, dunianya seketika kembali dapat ia raih, meski sesungguhnya ia tidak tahu mana dunianya yang sesungguhnya mana yang bukan.

"Matahari pagi selalu baik untukmu, Vonil," Ia tersenyum mendengar namanya bergetar di bibir lelaki itu. Vonil, bisiknya sambil memandang jauh ke luar, menarik napas dalam-dalam. Itulah ia. Perempuan yang kembali hidup.

"Aku akan siap-siap pergi ke Jalan Angsa," katanya tiba-tiba, dengan suara riang kepada lelaki yang telah berdiri di sampingnya. Ia mengatakan tentang rencana pergi ke toko buku bersama Lalit. Pasti sudah banyak buku baru di sana. Lalit suka membaca.

"Kau bisa membuatnya kelelahan," kata suaminya.

"Tidak, tidak," katanya, "Lalit senang diajak keluar sarangnya." Lalit jelas bukan burung, tapi begitulah ia telah menyebut rumah mungil Lalit di kompleks pinggrian kota itu. Di rumah itu, Lalit sendirian. Tidak punya keluarga dan teman. Ia kesepian di sarangnya itu.
"Sebentar lagi semua akan selesai," katanya kepada Lalit, "dan kau bisa mengepakkan sayap dengan bebas."

Lalit tidak terlalu antusias menanggapinya dan malah mengeluh tentang perutnya yang makin sesak. Bayi di perut itu tentu makin besar dari hari ke hari.

"Sabarlah," katanya, membujuk Lalit. Pada saatnya semua akan berlalu dan bayi itu akan keluar dari sana. Bayi yang mungkin saja memiliki rambut gelap dan pipi yang putih. Lalit tidak bicara. Lalit memang jarang berbicara dengannya selain soal buku fiksi yang dibacanya.

Dulu, sebelum mereka sama-sama resign dengan alasan yang berbeda, di kantor mereka juga bukan atasan dan karyawan yang akrab. Lalit penyendiri. Sampai Lalit hamil dan ditinggal pacarnya. Vonil tidak tahu bagaimana bisa ide membesarkan janin itu melibatkannya.

Suatu hari Lalit datang ke ruangannya. Mereka membuat kesepakatan. Lalit akan melahirkan bayi itu dan memberikannya kepadanya. "Aku butuh uang yang banyak," kata Lalit waktu itu. Ia menceritakan tentang ibu, bapaknya yang cacat, dan tiga adik di kampungnya. Ia tidak bisa berpacaran dengan lelaki yang memiliki banyak uang bila ia membesarkan bayi dalam perutnya.


"Itu melanggar nilai-nilai," pikirnya menghakimi Lalit. Menjual tubuh demi uang, tidakkah itu menjijikkan? Ibu, bapak yang cacat, adik-adik, butuh makan. Siapa yang peduli bahwa mereka akan mati kelaparan besok pagi?

Tidak. Lalit tidak sepenuhnya salah. Batinnya berseteru. Lalit pun jadi seekor burung di rumah mungil di pinggir kota. Suaranya tenang, kompleks yang tidak terlalu ramai, jadi pilihan agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing.

"Apa yang kau lakukan?" kata suaminya waktu itu.

"Kita akan punya bayi lagi," katanya, "Kali ini kita akan benar-benar mendapatkannya." Ia berjalan ke kamar mandi sambil mengingat semua itu. Ia menghidupkan air keran dan berada di sana selama satu jam.

Ia memang sangat senang mandi. Memberishkan daki dengan pelan-pelan. Dari kulit lehernya hingga betis. Kadang-kadang ia menggosok kulitnya terlalu keras. Kulitnya memerah dan terkadang tergores. Ia menikmati rasaya. Panas dan nyeri.

"Bila kau berlama-lama, aku akan sangat terlambat tiba di kantor," tegur suaminya dari balik pintu. Ia tak bisa melihat suaminya itu, tapi ia hafal kekhawatiran yang kerap mewarnai lelaki itu. Suaminya khawatir kalau ia terlalu lama di dalam kamar mandi. Kamar mandi dianggapnya tempat berbahaya, meski sebenarnya segala cairan berbahan kimia sudah dikeluarkan dari sana, selain sebotol sabun dan sampo.

"Keluarlah sekarang, Vonil," kata suaminya lagi. Lelaki itu tak akan pergi dari pintu sampai ia muncul dengan tubuh telanjang dan handuk membungkus rambut di kepala.

Setelah itu mereka sama-sama berpakaian dan siap-siap berangkat ke rumah Lalit. Suaminya mengantarnya terlebih dahulu, baru lalu berbalik ke arah kantornya dipusat kota.

Aku menjadi bidadari, Ibu.

Di sini langit berwarna-warna cerah. Seperti pelangi raksasa. Bisakah Ibu membayangkannya? Namun, sebenarnya aku lebih suka membayangkan lagit itu sebagai taman bunga. Berapa banyak serangga datang ke sana? Mereka berbondong-bondong melintas di atas kepalaku. Aku berteriak, "Hai, apa kalian melihatku?"

Tidak seekor pun yang menyahut. Serangga selalu tak sabar berburu bunga.

Ibu pasti tahu itu. Tidak mengapa. Aku senang dengan hanya memandanginya. Hatiku sudah penuh dan aku lupa cara menjalani kehidupan di sini, selain dengan berbahagia. Karena itu, ibu, jangan lagi mengingatku sebagai kesedihan.

Sekarang bangunlah, aku akan keluar dari mimpimu.

Pagi ini, ia malas sekali bangun. Matanya tetap terpejam, meski sebenarnya ia sudah terjaga. Ia masih ingin berada di mimpi itu lebih lama. Ia tidak suka kekosongan. Ia tak mau berkali-kali menemukan dadanya dimikian sunyi. Tak ada apa-apa, tak ada suara. Di mana suara dadaku itu? pikirnya.

Suaminya berbisik, "Bukalah matamu, Vonil." Ia hanya membuka mata sebentar lalu menutupnya lagi. Seluruh dirinya benar-benar hampa. "Buka matamu, bangkit dari tempat tidur, buka jendela," kata suaminya lagi.

Ia tidak mau melakukan apa-apa. Juga tidak mau membuka jendela.

"Baik, aku akan membukakannya untukmu," suaminya berdiri dengan cepat. Ia mendengar suara gorden digeser. Lalu derit engsel jendela yang berat. "Lihatlah ke luar," kata suaminya.

Dari tempat tidur, ia membuka mata dan melihat langit yang putih kelabu. Itulah dunianya sekarang. kemudian dengan cepat hatinya menjadi perih. Lalit sudah terbang dari sarangnya. Tidak sendirian, melainkan dengan bayi burungnya.

Ia tidak marah kepada Lalit. Sudah sepantasnya begitu. Ia hanya membenci dirinya sendiri.

"Kita tidak akan pernah punya bayi lagi," itu yang ia katakan kepada suaminya dan lelaki itu tersenyum kepadanya. Seharusnya lelaki itu tidak perlu tersenyum. Menangis saja apa adanya. Itu lebih membuatnya tenang. 

Bayi yang ia lahirkan sepuluh tahun lalu tak pernah membuka matanya. Setelah itu ia tak pernah hamil lagi. Lalu beberapa kali ia hampir memiliki bayi dari rahim orang lain, tapi mereka semua menjelma burung.

Mereka terbang jauh membawa bayi dengan paruhnya.

"Aku tak bisa," kata Lalit saat bayi itu lahir. Bayi berambut gelap dan pipi yang putih. Jika ia menjadi Lalut, ia juga pasti tidak bisa. Ia tahu bagaimana rasanya dipisahkan dari darah sendiri. Ia tidak akan memaksa. Seperti juga yang sudah-sudah, ia tak pernah bisa memaksa. Ponselnya berbunyi.

Nama Lalit muncul di layar.

"Lalit," katanya kepada suaminya

"Angka saja," kata suaminya

"Halom" sayanya. Ia mendengar suara Lalit yang sudah sangat dikenalnya. Ini pertama kali Lalit menghubungi setelah tiga bulan ia pergi dengan bayinya. Lalit bilang bahwa ia akan datang berkunjung akhir pekan nanti. Ia tidak tahu apa arti kunjungan itu. Namun, ia bilang, "Baik."

"Apa yang dikatakannya?" tanya suaminya.

"Ia akan datang akhir pekan."

Suaminya tersenyum. Di luar ia memandang dua ekor burung terbang mendekat. Burung itu tampak cantik sekali dan ia berseru, "Kau tidak ingin melihat dua ekor burung itu?"
Reactions:

0 comments:

Post a Comment