Masyarakat Naga! Hobi Menebas Kepala Orang Untuk Mendapatkan Sebuah Tato Ditubuhnya

Masyarakat Naga! Hobi Menebas Kepala Orang Untuk Mendapatkan Sebuah Tato Ditubuhnya

INIKECE - Dikenal sebagai suku masyarakat Naga. Berada di ujung Utara Myanmar terdapat sebuah desa yang dihubi oleh suku Lainong. Di sini masyarkatnya memiliki kebiasaan yang aneh dan juga menyeramkan.

Ngon Pok adalah salah satu orang yang tinggal di desa tersebut. Pria tua yang meyakini dirinya berusia sekitar 80 tahun itu masih ingat betapa riuh desanya, ketika ayah dan kakeknya kembali ke desa sambil membawa kapala manusia.

Setelah itu sang ayah dan kakeknya kemudian 'dihadiahi' tato sebagai penanda untuk merayakan kemenangan mereka. Dilansir South China Morning Post (SCMP), Ngon Pok memberi isyarat pada awak media.


Melalui gerak isyarat itu, ia menjelaskan bahwa pada masa itu, ia berusia sekitar enam tahun, seperti cucunya itu ketika pertama kali mendapatkan tato. Ngon Pok adalah salah satu anggota suku Lainong yang bermukum di zona semi-otonom, dekat perbatasan India.

"Orang-orang harus menangkap dan menahan saya," katanya sambil melepas jumpernya.

Ngon Pok lalu menunjukkan dadanya yang dihiasi tato berbentuk garis-garis vertikal dan paralel, serta dua sosok prajurit.

Suku-suku dan desa-desa yang ada di kawasan tempat ia bermukim, biasanya berperang karena masalah wilayah. Para pejuang yang ikut berperang akan memotong kepala musuh-musuh mereka untuk mendapatkan piala.


Aksi tersebut menjadi sebuah tradisi dan berlangsung hingga akhir 1960-an. Untuk merayakan kemenangan atas musuh, mereka akan menggunakan duri sebagai pengganti jarum tato.

Duri tersebut giunakan untuk memasukkan getah pohon ke dalam area bawah kulit prajuritnya. Tato yang terbentuk itu nantinya akan jadi pengingat akan kehebatan sang prajurit kala berperang dan menebas kepala musuh.

Biasanya bukan hanya prajurit saja yang akan di tato, tetapi juga keluarga mereka. Itulah yang dirasakan Ngon Pok, karena ia mesti merasakan sendiri sakitnya di tato sejak masih sangat belia.


Khamyo Pon Nyun, istri dan Ngon Pok pun juga sama. Wanita yang kini berusia 75 tahun itu memiliki tato berbentuk desain geometris di lengan, kaki, dan wajahnya. Ia mendapatkan tato tersebut saat masih remaja.

"Sakit sekali," kata Khamyo Pon Nyun sembari mengingat-ingat.

Tak lama kemudian, ia mengangkat sedikit roknya untuk memperlihatkan kakinya yang ditato itu.

"Tapi aku bilang pada diriku sendiri, kalau ibu dan bibiku bisa melakukannya, berarti aku juga bisa," tuturnya sambil tersenyum.


Dengan meyakinkan diri seperti itu, ia tak butuh bantuan orang-orang sekitar untuk mengendalikan diri demi menahan rasa sakit.


Selama era kolonial, Inggris mengambil keuntungan besar di dataran rendah milik masyarakat Naga untuk dieksploitasi secara komersial. Eksploitasi tersebut juga diikuti dengan banyak manipulasi demografi.

Inggris lalu membagi wilayah, seperempat bagian untuk mereka menetap, dan sisanya di bawah yurisdiksi kerajaan. Dengan kehadiran Inggris di perbukitan tempat tinggal masyarakat Naga, maka berubah pula kehidupan masyarakat setempat. Tanpa banyak ritual, Inggris mengambil kedaulatan atas mereka.

Hingga kini, masyarakat Naga tak punya negara. Mereka berada di zona berbeda, tersendiri dan terpisah. Antropolog dan penulis Amerika, Lars Krutak, adalah salah satu orang yang telah mempelajari tato suku-suku di dunia, termasuk masyarakat Naga.

"Keragaman pola tato Naga adalah keunikan bagi saya," katanya.

Ada lebih dari 20 suku bertato di kedua sisi perbatasan. Mereka punya identitas masing-masing, ritual peralihan kedewasaan yang berbeda, bahasa, hingga dialek yang berbeda.


Salah satu suku dari masyarkat Naga yang paling ditakuti adakah Konyak. Seperti dierikan National Geographic, menurut kepercayaan yang dianut masyarakat Naga, tengkorak manusia memiliki kekuatan hidup.

Kekuatan ini mampu memberikan berkah bagi klan suku, tanaman, dan hewan. Nokying Wangnao misalnya, dia bangga akan masa lalunya. Ketika para lelaki muda berpawai di sekitar desa setelah berhasil mengalahkan musuh, para wanita akan menawarkan minum alkohol dari beras.

Pria-pria yang lebih tua akan menyembelih kerbau dan memasaknya. Tengkorak hasil tebasan itu kemudian diletakkan di atas batu datar, di luar rumah kepala desa. Besoknya, wajah dan dada Wangnao ditato.


Tinta yang memudar ditubuhnya jadi tanda bahwa ia adalah salah satu pemburu kepala terakhir dari masyarakat Naga yang masih hidup.

"Setiap kepala miliki kekuatan," katanya pada National Geographic.

Beda Wangnao beda pula Houn Ngo Kaw. Ia mengklaim telah berhenti melakukan tradisi berdarah di desanya setelah menerima agama Kristen pada 1978. Ia pun kini merasa jadi lebih baik.

Generasi muda masyarakat Naga juga kini jarang memakai tato tradisional yang khusus diberikan setelah memburu kepala manusia. Walau begitu, tak sedikit warga yang menyesal kalau nantinya tradisi tersebut akan hilang selamanya.

"Saya ingin menjadi salah satu prajurit bertato terakhir." pungkas penatua Konyak, Houn Nyo Kaw, sambil tersenyum lebar.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment